Harga Kedelai Naik, Pengusaha Tempe Terancam Gulung Tikar - Warna Sumut

Thursday, September 17, 2020

Harga Kedelai Naik, Pengusaha Tempe Terancam Gulung Tikar

Foto : Dani Sartika (Pengusaha Tempe)

Warna Sumut - Deli Serdang. Naiknya harga kedelai dari Rp 6.500 per kilogram menjadi Rp 7.500 per kilogram membuat para perajin tempe di Kabupaten Deli Serdang kalang kabut, Dengan kenaikan harga kedelai yang cukup tinggi tersebut, mereka harus tetap berproduksi sebab konsumen hampir dipastikan selalu mencari lauk khas Indonesia ini.

Alhasil, untuk menyiasati supaya harga tempe tidak ikut melonjak, maka para produsen tempe mengurangi produksi Dan pengurangan ukuran tempe sekitar 1 sentimeter dari ukuran sebelum harga kedelai naik pun masih menyisakan masalah, Pasalnya, daya beli konsumen juga menurun akibat Pandemi Covid-19 Dan harga barang kebutuhan sehari-hari naik.

Harga kedelai naik bang, tapi kalau (harga) tempenya dinaikkan tidak laku. Terpaksa ukuran tempenya dikurangi, kata Dani Sartika, pedagang sekaligus pembuat tempe asal Desa Seintis, Jalan Wonoaji, gang Tempe, Kabupaten Deli Serdang, yang mengeluhkan kenaikan harga kedelai, Rabu (16/09/2020).

Rupanya kenaikan harga kedelai di Akibatkan Pandemi Covid-19 Dan pasar lokal juga diperparah oleh langkanya stok kedelai di Sumatera Utara, Akibatnya, beberapa perajin tempe Terancam Gulung Tikar, berhenti produksi hingga pengadaan bahan baku dan harga kedelai kembali normal seperti biasanya.

Melambungnya harga kedelai ini diduga karena imbas Pandemi Corona, Keluhan para perajin dan konsumen tempe ini seharusnya mejadi perhatian dari pemerintah. Sebab, tempe adalah komonitas utama dalam negeri, sebagai salah satu makanan asli Indonesia yang digemari seluruh penduduknya. Keberadaan dan kualitas tempe sebaiknya tetap terjaga supaya asupan nutrisi berprotein tinggi demi kesehatan bangsa juga turut terjaga.
(Rizky Zulianda)

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda