Warna Sumut: Pristiwa
Showing posts with label Pristiwa. Show all posts
Showing posts with label Pristiwa. Show all posts

Friday, August 20, 2021

Perampok Taksi Online Ditangkap Tekab Polsek Sunggal


warnasumut.com - Medan. Team khusus anti bandit (Tekab) Polsek Sunggal Polrestabes Medan kembali berhasil meringkus komplotan penjahat bersenjata tajam, yang merampok seorang pengemudi taksi online dengan modus berpura-pura sebagai penumpang.

Demikian disampaikan oleh Plt Kapolsek Sunggal AKP P. Panjaitan SH MH melalui Kanit Reskrim AKP Budiman Simanjuntak SE MH didampingi Kasi Hukum Aiptu Ngatijan dan Kasi Humas Aiptu Roni Sembiring saat dikonfirmasi pada Kamis (19/08) di mako Polsek Sunggal Polrestabes Medan.

Dijelaskan Kanit, peristiwa perampokan tersebut berawal pada hari Sabtu (14/08) sekira pukul 00.30 wib, korban MI (42) warga Kel. Sunggal Kec. Medan Sunggal, mendapatkan orderan melalui aplikasi online. Selanjutnya korban menjemput penumpang tersebut di Jl. Binjai km 12, yaitu tiga orang pria, dua orang masuk kedalam mobil korban sedangkan yang seorang lagi tidak ikut, dengan tujuan di seputaran pintu tol Jl. Orde Baru Kec. Sunggal DS.

Sewaktu mendekat ke pintu masuk tol Semayang, salah seorang pelaku menunjukkan sebuah rumah dan mengatakan kepada korban itu adalah rumahnya sehingga korban harus berbalik arah dan memperlambat laju kendaraannya, tambahnya lagi, namun momen itu dimanfaatkan pelaku untuk langsung menikam korban beberapa kali sehingga korban langsung keluar dari mobilnya untuk menyelamatkan diri hingga akhirnya pingsan dan ditolong oleh warga sekitar. Sedangkan kedua pelaku langsung melarikan diri dengan membawa mobil berikut handphone korban.

Tekab Polsek Sunggal Polrestabes Medan yang menerima laporan pengaduan korban segera melakukan olah TKP dan selanjutnya melakukan penyelidikan sekaligus melakukan koordinasi dengan jajaran Polda Sumut untuk melakukan pencegatan terhadap mobil korban.

"Atas kerja sama yang baik, selanjutnya diketahui mobil korban sedang mengarah ke Rantau Prapat, sehingga team yang dipimpin langsung oleh Kanit Reskrim didampingi Panit Ipda Bambang Wahid, SH segera melakukan pengejaran dan berhasil menemukan keberadaan para pelaku.", imbuhnya lagi.

"Posisi terakhir, kita ketahui bahwa para pelaku berada di Rokan Hulu Riau sehingga kita berkoordinasi dengan Polsek Bagan Sinembah, untuk melakukan penangkapan terhadap tersangka. Namun saat dilakukan penggerebekan, dua orang tersangka melarikan diri sedangkan seorang tersangka MIA (26) warga Kel. Sei Sikambing Kec. Medan Helvetia yang juga melakukan perlawanan saat dilakukan penangkapan terpaksa kita lakukan tindakan tegas dan terukur dibagian kaki sebelah kanan." papar mantan Kanit Reskrim Polsek Patumbak tersebut.

"Pada hari Minggu (15/08) sekitar pukul 10.30 wib, tersangka MIA sudah berhasil kami amankan dan saat sekarang ini sudah ditahan di RTP Polsek Sunggal dan barang bukti berupa satu unit mobil Daihatsu Sigra dan dua bilah pisau sudah kami sita, sedangkan dua orang temannya, yang sudah diketahui identitasnya, masih kami kejar dan dimasukkan kedalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Kami himbau agar keduanya menyerahkan diri guna memperlancar proses penyidikan. Terhadap tersangka, kami persangkakan melanggar pasal 365 KUHP, dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara," pungkasnya mengakhiri. (Rizky Zulianda)

Thursday, August 19, 2021

Ngeri, Rumah Sakit Eshmun Marelan Buang Limbah B3 Secara Sembarangan

warnasumut.com - Medan. Lagi permasalahan terjadi di kota Medan yang kita cintai ini,kali ini masalah hadir di bidang kesehatan terutama dari sebuah Rumah Sakit yang baru berdiri di Kota Medan tercinta ini.

Adapun Rumah Sakit yang dimaksud yakni Rumah Sakit  yang bernama Eshmun dan terletak di Jalan Marelan atau tidak beberapa jauh dari Tanah Lapang 600 yang masih merupakan wilayah Kota Medan.

Rumah Sakit yang tidak memiliki AMDAL sesuai peruntukannya tersebut dinilai melanggar izin tentang kesehatan dan lingkungan hidup, DPC LSM Pembela Kemerdekaan Rakyat (PAKAR) melalui Ketua DPC Kota Medan sudah 2 kali menyurati Rumah Sakit tersebut tetapi tidak mendapatkan balasan.

Maka pada Senin(16/08/2021) sekitar pukul 09.00 Wib DPC LSM PAKAR Kota Medan mengadakan konferensi pers di sebuah hotel yang ada dikota Medan dengan mengundang awak media, LSM yang telah banyak membela hak-hak rakyat yang termajinalkan tersebut pun setelah mengadakan konferensi pers langsung turun ke Rumah Sakit yang dimaksud untuk mempertanyakan hal tersebut ditemani beberapa awak media. Dimana LSM PAKAR DPC Kota Medan sudah menyurati Dinas LH  melalui Kadis LH Kota Medan S Armansyah Lubis SH benar menyatakan bahwasannya benar Rumah Sakit Eshmun tersebut tidak mempunyai tempat pembuangan limbah B3 sesuai dengan peruntukannya, dan ini sangat berbahaya sebab bisa menimbulkan masalah baru ditengah-tengah masyarakat.

Ketua DPC LSM PAKAR Kota Medan melalui Sekretarisnya Acil dan Wakil Ketua Dewi meminta pemerintah terutama Pemko Medan dibawah pimpinan M Bobby Afif Nasution segera mencabut izin Rumah Sakit tersebut, sebab ini sudah melanggar ketentuan yang ada tentang berdirinya sebuah Rumah Sakit.

Apalagi ketika DPC LSM PAKAR Kota Medan turun langsung menemui pihak Rumah Sakit dengan ditemani oleh DPW Perkumpulan MOI Sumut dibawah pimpinan PLT Ketua Ir H Hamlet Harahap MM melalui Ketua Hubungan Antar Lembaga Roy Nasution. Malah ditemui oleh pihak Rumah Sakit yang tidak berwenang menjawab bernama Servia dan Dewi.

Bahkan ketika awak media menanyakan tentang amdal Rumah Sakit Eshmun tersebut, Servia mengatakan bahwa mereka Rumah Sakit tempat mereka bekerja sudah memiliki AMDAL sementara Dewi menjawab mereka hanya memiliki IKL/UPL. Disini ketahuan bahwa Rumah Sakit tersebut belum memiliki sebuah tempat pembuangan limbah sesuai yang diperuntukkan layaknya sebuah Rumah Sakit dengan jawaban mereka yang tidak sinkron tersebut.

Untuk itu,sekali lagi DPC LSM PAKAR Kota Medan meminta Pemko Medan segera mencabut izin Rumah Sakit Eshmun sesegera mungkin, atau mereka akan melakukan demo besar-besaran ke Pemko Medan dan Polrestabes Medan serta Polda Sumut. Karena disini terlihat bahwa Rumah Sakit tersebut terkesan kebal hukum dengan merasa dekat dengan para penguasa. Demikian kata Ketua DPC LSM PAKAR Kota Medan kepada awak media. (RZ)

Tuesday, August 17, 2021

Seorang Wanita Ditemukan Tewas Tergantung


warnasumut.com - Medan. Sesosok mayat perempuan yang tidak dikenal ditemukan oleh warga Jl. Kapten Sumarsono Dusun III Desa Helvetia Kec. Sunggal DS dalam posisi tewas tergantung di tiang pagar sebuah rumah kosong pada Sabtu (14/08) sekira pukul 12.30 wib.



Warga yang menemukan segera melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Sunggal yang selanjutnya langsung meluncur ke tempat penemuan tersebut dipimpin Kanit Intelkam Iptu Suhaily Hsb, SH didampingi Panit Reskrim Iptu Ibrahim Sofie, SH guna melakukan olah TKP bersama Tim Inafis Polrestabes Medan.



Demikian disampaikan oleh Plt Kapolsek Sunggal AKP P. Panjaitan SH MH melalui Kanit Reskrim AKP Budiman Simanjuntak SE MH didampingi Kasi Hukum Aiptu Ngatijan dan Kasi Humas Aiptu Roni Sembiring saat dikonfirmasi di mako Polsek Sunggal.



Dijelaskan Kanit, berkaitan dengan penemuan tersebut hingga saat ini saksi yang dimintai keterangannya ada tiga orang yaitu orang yang pertama kali melihat, Kepala Dusun dan pemilik rumah.


"Sudah tiga orang yang kami mintai keterangannya, namun ketiganya tidak ada yang mengenali mayat perempuan tersebut," tambahnya.



"Mayat Mrs X tersebut ditemukan dalam posisi tergantung di tembok pagar dan memakai helm, dengan ciri-ciri memakai celana panjang warna gelap, baju kaos lengan panjang berwarna terang namun ditubuhnya tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan sehingga masih kita dalami penyebab wanita tersebut bisa tergantung di tembok pagar tersebut," imbuhnya lagi.



"Saat ini, mayat Mrs X sudah kami evakuasi ke RSU Bhayangkara dan bagi masyarakat yang mengetahui identitas wanita tersebut kami harap agar bisa memberikan informasi ke Unit Reskrim Polsek Sunggal guna kami tindaklanjuti," pungkasnya mengakhiri. (Rizky Zulianda)

Saturday, August 14, 2021

2 Bulan Di Laporkan Ke Polsek Tanjung Morawa, Kasus IRT Di Ancam Pisau Masih Tak Jelas


warnasumut.com - Deli Serdang. NY, seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) warga Dusun V Desa Telaga Sari, Kec. Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, yang merupakan Korban Kasus pengancaman menggunakan senjata tajam (Sajam) disertai dugaan percobaan pembunuhan, akhirnya harus memilih untuk pindah tempat tinggal (rumah).

Pasalnya, akibat peristiwa yang dialaminya tersebut, korban mengaku terancam, padahal kasusnya sudah hampir dua bulan dilaporkan ke Mapolsek Tanjung Morawa, tertuang dalam Nomor : STTLP/56/IV/2021/SPK, pada 10 Juni 2021 sekira pukul 12.51 Wib lalu, namun korban merasa dirinya tidak terlindungi.

Korban membeberkan, sebelumnya, usai melaporkan peristiwa pengancaman menggunakan Sajam, hingga dirinya nyaris dibunuh oleh pelaku, korban mengaku kerap mendapat teror.

Aksi teror yang menimpah keluarga korban diantaranya, saat sore korban pulang melaporkan kasus tersebut dari Polsek Tanjung Morawa, ayahnya dan adiknya yang ketika pergi berboncengan naik sepeda motor mendapat teror, dengan cara digertak oleh adik pelaku.

"Ketika ayah saya dan adik saya berboncengan naik sepeda motor ingin membeli sesuatu di warung, saat berpapasan dengan adik pelaku, langsung dimaki dan ditantang oleh adik pelaku dengan mengucapkan kata-kata kotor", beber Korban.

Tidak hanya sampai disitu saja, korban juga mengungkapkan, pada pagi dini harinya, pada Jumat (11/6/2021), sekira pukul 2.00 wib, keluarga korban juga kembali mendapat teror.

"Pada saat dini hari itu, kami mendengar ada suara berisik kaki melangkah dihalaman rumah kami, namun ketika ayah saya ingin melihat keluar rumah melalui pintu depan ternyata pintunya dikunci dari luar, terpaksa ayah saya lewat pintu belakang, namun ketika diluar rumah ayah saya melihat ada orang lari, hingga ayah saya membentak, "siapa itu", ungkap korban.

Kemudian, lanjut korban, ketika dirinya akan pergi bekerja berjualan ke pasar, pada dini hari, teror berlanjut diduga dilakukan pelaku. 

"Ketika dini hari itu saya hendak berangkat berjualan, dan seperti biasanya dijemput oleh tukang becak motor, namun ketika diperjalanan kami dibuntuti, hingga akhirnya tukang becak yang saya tumpangi memilih tancap gas, dan syukurlah kami selamat, hingga sampai di Jalan besar beberapa sepeda motor yang mengejar kami dari belakang, berputar balik, mungkin mereka takut karena dijalan sudah mulai ramai orang yang akan pergi beraktivitas", jelas Korban.

Terkait aksi teror tersebut hingga akhirnya korban memilih berdiam diri dirumah dan memutuskan untuk berhenti bekerja berjualan.

"Beberapa kali ketika saya pergi bekerja berjualan, becak yang saya tumpangi seperti ada yang membuntuti, hingga pada suatu hari memang benar benar dikejar oleh beberapa sepeda motor, tapi saya masih selamat, jadi dari pada terjadi peristiwa yang tidak di inginkan, saya memilih untuk berhenti bekerja di Pasar", ungkap korban.

Ironinya, akibat kerap mendapat teror, saat ini korban bersama keluarga memilih pindah rumah.

"Anak saya masih kecil, dan saya perlu membiayai anak saya, dan saya juga tidak mau keluarga kami menjadi korban, jadi saya memilih pindah rumah, karena memang rumah sebelumnya yang kami tempati ini sepi, karena diareal perladangan", ucap Korban.

Sebelumnya, di Mapolsek Tanjung Morawa, pada Jumat (06/08/2021), korban NY mengungkapkan bahwa, saksi yang mengetahui kejadian peristiwa percobaan pembunuhan tersebut itu adalah tetangganya sendiri, yakni Painoka alias Wak Kuto dan Eka Susilawati. 

"Namun diduga saksi telah memberikan kesaksian palsu. Padahal jelas-jelas saat kejadian saksi berada ditempat dan sempat melihat pelaku berlari dan menyebutkan nama terduga pelaku, akan tetapi di hadapan petugas Kepolisian saksi beralibi tidak berada ditempat, dengan alasan berjualan bersama suami", beber Korban.

Terkait hal tersebut korban mengaku memiliki rekaman pembicaraannya dengan saksi, bahwa saksi melihat dan mengenali pelaku, dan menyuruh korban membuat laporan polisi.

Sementara itu, Kapolsek Tanjung Morawa AKP Sawangin, melalui Kanit Reskrim Ipda Oloan Samosir saat dikonfirmasi wartawan mengatakan belum menetapkan tersangka karena belum mencukupi alat bukti yang kuat sebutnya.

”Saya sedang di Polres, jadi untuk kasus itu sudah kita tangani, hanya saja belum cukup alat bukti untuk menetapkan tersangka", ujar Ipda Oloan Samosir, Jumat (06/08/2021).

Disinggung bahwa di duga saksi telah memberikan keterangan palsu, yang benarnya pembicaraan pada saat kejadian keterangan saksi ada dalam rekaman handpone milik korban. Oloan Samosir menyebutkan bahwa "hal itu tidak ada di BAP dan rekaman pembicaraan itu tak bisa dijadikan alat bukti", katanya. (Avid)

Monday, August 2, 2021

Puluhan Mahasiswa Dan Pecinta Lingkungan Hidup Kampanye Tolak Energi Kotor Batubara

warnasumut.com - Sumut. mahasiswa, aktivis pecinta lingkungan hidup, Yayasan Srikandi Lestari serta tim dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan menggelar kampanye di perairan seputar PLTU Pangkalan Susu, Sabtu (31/7) siang. Mereka mendesak, agar perusahaan penyedia listrik itu segera merehabilitasi lingkungan yang sudah rusak.

Mereka bergerak dari Desa Sei Siur, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat menuju anak usaha dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) itu lewat jalur air. Sepanjang perjalanan, mereka bertemu dan berdialog dengan nelayan di sana.

"Sekarang dah sulit nyari hasil yang memadai di lokasi ini. Kawasan mangrove yang menjadi habitat udang, ikan dan kepiting di kawasan ini sudah rusak. Saya berharap, agar mangrove di sini bisa segera dipulihkan kembali," keluh nelayan tradisional yang mengaku bernama Ismail asal Desa Tanjung Pasir itu.

# Rehabilitasi Kawasan Mangrove

Tepat di belakang perusahaan pembangkit listrik tersebut, mereka membentangkan spanduk berisi nada protes kepada pemerintah, untuk melepaskan ketergantungan penggunaan energi kotor batubara, mempercepat pengembangan energi terbarukan dan merehabilitasi kawasan mangrove di pesisir Teluk Aru.

Tak hanya itu, para pemuda yang peduli dengan lingkungan hidup tersebut, juga menuntut agar PLTU mengganti kerugian nelayan tangkap tradisional di wilayah Pangkalan Susu dan memberikan perobatan serta perawatan kesehatan pada warga di sana secara gratis.

Kemudian, mereka juga meninjau langsung proses bongkar muat batubara di laut lepas. Di sana, mereka melihat batubara berceceran ke laut, saat berlangsungnya proses loading dari kapal induk ke tongkang pengangkut batubara.

# Laut Tercemar

Di seputaran Desa Pulau Sembilan, pengusaha keramba ikan kerapu terpaksa gulung tikar. Limbah batubara yang mencemari laut sangat berdampak bagi nelayan di sana. Hasil tangkapan ikan menurun. Tongkang pengangkut batubara yang berlabuh di sekitar desa yang berdekatan dengan Jetty Conveyor PLTU itu pun mengganggu aktifitas nelayan.

Lagi-lagi, batubara yang beterbangan di sekitar Jetty Conveyor itu juga jatuh ke permukaan air laut. Akibatnya, pencemaran lingkungan pun tak terelakkan. Lambat tapi pasti, ekosistem biota laut dikhawatirkan akan segera punah

# Gagal Panen

Dari segi pertanian, dampaknya juga tak kalah menghawatirkan. Sawah tadah hujan gagal. Hama 'cekek leher' mengakibatkan batang padi kering dan mati. Hal itu membuat petani yang didominasi kaum perempuan berkurang penghasilannya. "Dahulu, petani mempunyai penghasilan 2 ton dari 10 rante lahan padi di sini," kata Ijah, warga Desa Sei Siur.

"Sekarang, petani hanya mampu panen 2-5 goni (senilai Rp.400 ribu) dengan luas lahan yang sama. Tanaman buah pisang juga terkena virus. Kondisi air hujan menjadi hitam dan tidak bisa dipergunakan lagi untuk mandi ataupun air minum. Atap seng rumah kami juga menjadi cepat rusak," tandas Ijah.

# ISPA dan Penyakit Kulit

Riset yang dipublikasi Greenpeace Indonesia menyebutkan, PLTU batu bara diperkirakan telah menyebabkan 6.500 kematian dini setiap tahunnya. Dengan rencana pembangunan PLTU batu bara baru, angka kematian ini bisa mencapai 28.300 orang setiap tahun. Dari hulu ke hilir, biaya kesehatan, lingkungan dan sosial dari pertambangan batu bara tidak diperhitungkan, yang pada akhirnya harus ditanggung rakyat. Biaya kesehatan dari PLTU Batubara misalnya, mencapai Rp351 triliun untuk setiap tahun.

Sementara, berdasarkan data yang dihimpun Yayasan Srikandi Lestari dari Puskesmas Beras Basah pada tahun 2019 semester II, sebanyak 1.073 masyarakat Pangkalan Susu menderita Infeksi Akut Lain pada saluran pernafasan bagian atas dan sebanyak 1.090 menderita penyakit kulit. 

"Masyarakat di sekitar Desa Sei Siur mengalami gatal-gatal pada kulitnya. Banyak juga anak di sana yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang merupakan imbas dari abu terbang (fly ash) batubara. Penggunaan energi kotor batubara harus segera dihentikan," kata Direktur Yayasan Srikandi Lestari Sumiati Surbakti SE.

# Mencari Solusi

Ketua FKPPI Kecamatan Pangkalan Susu Ismail melalui Sekjennya Anuar Hamdani Nasution mengatakan, bahwa yang paling merasakan dampak dari hadirnya PLTU batubara adalah nelayan di Pulau Sembilan. Penghasilan mereka turun drastis hingga 70 persen.

Untuk di Desa Sei Siur, kata Anuar, warga di sana sangat merasakan dampak dari polusi udara. Sesak nafas, batuk dan kulit gatal-gatal sudah menjadi hal kerap terjadi di sana. Air hujan yang turun kadang menjadi hitam, karena bercampur abu batubara.

"Perusahaan (PLTU P Susu) harus segera mencari solusi terkait persoalan ini. Ini persoalan serius. Mereka harus turun untuk mendengar keluhan warga di bawah. Jangan cuma dengar dari pihak desa atau kecamatan aja," tandas pria paruh baya itu.

Terpisah, Humas PLTU P Susu Syawal saat dikonfirmasi awak media terkait persoalan tersebut, Senin(2/8), mengatakan akan konfirmasi ke manajemen perusahaan. "Saya akan konfirmasi dahulu. Mohon ditunggu tanggapan dari kami," kata Syawal via pesan WhatsAppnya. (Arifin)

Monday, July 5, 2021

Tekab Polsek Sunggal Polrestabes Medan Tangkap Komplotan Curas

warnasumut.com - Medan. Tekab unit Reskrim Polsek Sunggal Polrestabes Medan berhasil mengungkap dan menangkap seorang dari tiga orang komplotan pelaku pencurian dengan kekerasan yang terjadi beberapa waktu lalu di Desa Pujimulio Kec. Sunggal DS.



Demikian disampaikan oleh Kapolsek Sunggal Kompol Yasir Ahmadi SH SIK MH melalui Kanit Reskrim AKP Budiman Simanjuntak SE MH didampingi Kasi Hukum Aiptu Ngatijan dan Kasi Humas Aiptu Roni Sembiring saat dikonfirmasi pada Senin (05/07) di mako Polsek Sunggal.



"Tersangka pelaku ada tiga orang, yaitu ADE NOVRI SANJAYA Als TODE yang berhasil kita tangkap tidak lama setelah kejadian dan saat ini masih menjalani hukumannya, lalu DI alias Balong yang telah kita tangkap dan sedang kita proses perkaranya serta SU yang masih kita kejar", ungkap Kanit mengawali.



Dipaparkannya, peristiwa tersebut terjadi pada bulan Juli 2020 di Desa Pujimulio Kec Sunggal DS dengan modus berpura-pura menjual sepeda motor dengan harga murah di media market place. Saat itu, korban Ariyoga Ramadan tertarik dengan iklan tersebut dan menghubungi nomor handphone yang tercantum. Selanjutnya pelaku ADE NOVRI SANJAYA Als TODE mengatakan kepada korban agar membawa uang panjar sepeda motor yang ditawarkan pelaku. Setelah bertemu, selanjutnya ADE NOVRI SANJAYA Als TODE membonceng korban untuk melihat sepeda motor yang akan dijual dan setelah sampai ternyata tersangka DI alias Balong dan S sudah menunggu, selanjutnya ketiga pelaku langsung menganiaya korban hingga babak belur dan mengambil uang yang dibawa korban, selanjutnya ketiganya langsung melarikan diri sedangkan korban membuat pengaduan ke Polsek Sunggal sesuai dengan Laporan Polisi No. LP/445/K/VII/2020 tanggal 26 Juli 2020. Selanjutnya team kita melakukan penyelidikan dan berhasil mengamankan Ade Novri Sanjaya alias Tode dan saat sekarang ini sedang menjalani masa hukumannya di Rutan Labuhan Deli.



"Tersangka DI alias Balong langsung melarikan diri dan berpindah-pindah, namun berhasil kita tangkap di tempat persembunyiannya di Desa Muliorejo pada Jumat (25/06) dan saat ini masih kita proses untuk melengkapi berkasnya dan kita persangkakan melanggar pasal 365 KUHP dengan ancaman hukuman 9 tahun", ujarnya lagi.



"Untuk S, ini sudah kita masukkan ke daftar DPO dan kita himbau agar menyerahkan diri guna mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum", pungkasnya mengakhiri. (Rizky Zulianda)

Saturday, June 26, 2021

Warga Gebang Tewas Tergantung Di PT Rapala

warnasumut.com - Langkat. Abdul Rahim (42) ditemukan tewas tergantung di dekat kamar mesin pompa limbah pabrik kelapa sawit (PKS) PT Rapala. Lehernya terikat dengan seutas tali di areal pabrik yang terletak di Dusun I, Desa Padang Langkat, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Selasa (22/6) sekira jam 13.15 WIB.

Penemuan jenazah Abdul itu pertama kali diketahui oleh rekan kerjanya yang bernama Putra (41). Dari waduk limbah, Putra melihat ada orang yang tergantung di dekat pompa. Dari temuan itu, Putra kemudian memberitahukan kepada rekannya yang bernama Bambang.

Kanit Reskrim Polsek Gebang IPDA Fahrur Rozi membenarkan penemuan mayat itu. "Setelah saksi mengetahui mayat korban, mereka kemudian lapor ke security. Setelah itu, kepala security menghubungi kami," kata Rozi via pesan tertulisnya, Selasa (22/6) malam.

Dari informasi tersebut, kata Rozi, personil dari Polsek Gebang langsung mendatangi tempat kejadian perkara (TKP). "Saat itu korban sudah meninggal. Dari olah TKP, tidak ada ditemukan tanda bekas penganiayaan," lanjutnya.

Setelah dievakuasi, jenazah Abdul langsung dibawa ke RSU Tanjung Pura. Kemudian, sesudah dilakukan pemeriksaan medis, jenazah korban dibawa pulang ke rumah duka. "Keluarga korban buat suarat pernyataan tidak keberatan dengan tidak dilakukanya otopsi," tandas Rozi.

Dari TKP, ditemukan seutas tali tambang yang digunakan Abdul untuk mengakhiri hidupnya dan satu lembar surat permohonan maaf yang ditujukan untuk istrinya. (Dani. S)

Thursday, June 24, 2021

Dianiaya 6 Preman, Ibu Rumah Tangga Menangis Histeris Di Polres Simalungun


warnasumut.com - Simalungun. Seorang wanita paruh baya, Nurieni Saragih (56) menangis histeris dan mohon keadilan di Markas Kepolisian Resor Simalungun. Ibu rumah tangga ini kecewa lantaran enam terduga preman yang menganiaya serta merusak rumahnya tidak ditahan polisi.
 
Nurieni Saragih (56) warga Desa Silandoyung Nagori Silau Paribuan, Kecamatan Silau Kahean, Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara (Sumut) menangis histeris di depan pintu masuk Satreskrim Polres Simalungun. Seorang penyidik Satreskrim Polres Simalungun Briptu Cou Sinaga coba menenangkannya.
 
Perempuan ini tetap menangis dan bermohon sambil menyembah Briptu Cou Sinaga agar para pelaku yang menganiaya serta merusak rumahnya segera ditangkap dan dilakukan penahanan.
 
“Tolonglah pak polisi, para pelaku yang menganiaya saya serta merusak rumah saya segera ditangkap. Saya setiap hari diteror pak, takut dibunuh sama mereka (pelaku),” kata Nureni kepada Briptu Cou Sinaga, Kamis (24/6/2021).
 
Nurieni menjelaskan kepada penyidik Briptu Cou Sinaga, kasus yang menimpanya sudah berlangsung enam bulan, tepatnya dilaporkan pada 29 Desember 2021.
 
“Tolonglah pak polisi, saya takut sekali pak polisi. Kemana lagi saya mau mengadu kalau bukan sama pak polisi. Saya ini warga Negara Indonesia pak,” ujar ibu lansia ini sambil menangis tersedu-sedu di dekat kaki Briptu Cou Sinaga.
 
Di hadapan korban, Briptu Cou Sinaga menjelaskan kalau kasus yang dilaporkan korban sudah dilimpahkan Satreskrim Polres Simalungun ke Kejaksaan.
 
“Kasus ibu sudah kami limpahkan ke kejaksaan dan tinggal menunggu petunjuk dari kejaksaan. Kalau mengenai keenam pelaku tidak ditahan itu kewenangan kami dan berdasarkan hasil gelar perkara yang dilakukan penyidik,”ucap Briptu Cou Sinaga.
 
Penyidik satreskrim Polres Simalungun ini juga mengakui menemui kendala dalam menangani perkara yang menimpa Nurieni Saragih.
 
“Kami tidak mendapatkan video peristiwa saat kejadian. Apalagi para tersangka saat dipanggil penyidik, tidak ada yang mengakui perbuatannya,”kata Cou Sinaga di hadapan korban.
 
Alasan yang disampaikan penyidik Cou Sinaga membuat kuasa hukum korban, Bambang Samosir sempat geleng-geleng kepala. Bambang menduga penyidik menyalahgunakan wewenang.
 
“Pak Cou Sinaga, saya tahu kalau kasus yang dilaporkan klien saya telah dilimpahkan ke kejaksaan bahkan tinggal menunggu P21 (berkas lengkap). Namun yang saya mau pertanyakan, apa dasar penyidik tidak menangkap dan menahan keenam pelaku. Apalagi ibu ini (korban) sudah tua, dianiaya, dikeroyok dan rumahnya dihancurkan terduga pelaku,” tanya Bambang kepada penyidik Briptu Cou Sinaga.
 
Cuo Sinaga yang mendapat pertanyaan menjawab kalau yang menangani perkara Nurieni Sinaga adalah atasannya.
 
“Para pelaku tidak ditahan berdasarkan hasil gelar perkara. Silahkan tanya langsung kepada atasan saya yang menangani perkara ini,”kata Cou Sinaga kepada kuasa hukum korban.
 
Ketika kuasa hukum korban meminta agar dipertemukan dengan Kapolres atau Kasat Reskrim atau pun Kanit Reskrim, Briptu Cou Sinaga mengakui kalau perwira yang disebut sedang tidak berada di tempat.
 
Korban Nurieni Saragih dan kuasa hukumnya akhirnya keluar dari Polres Simalungun dengan rasa kecewa. Korban Nurieni rencananya akan melaporkan Kapolres dan penyidik Satreskrim Polres Simalungun ke Bidang Propam Polda Sumut, pada Jumat (25/6/2021).
 
Kuasa hukum korban Bambang Samosir dan kawan-kawan pada Kamis (24/6/2021) bahkan telah melayangkan surat terkait kasus yang menimpa kliennya ke Kapolri, Irwasum Polri, Kapolda Sumut, Irwasda dan Kabid Propam Polda Sumut.
 
Diketahui, korban Nurieni Saragih menjadi korban penganiayaan dan pengeroyokan sejumlah preman di dalam rumahnya di Desa Silandoyung Nagori Silau Paribuan, Kecamatan Silau Kahean, Kabupaten Simalungun, pada 29 Desember 2020. Selain dianiaya, rumah korban juga dirusak sehingga kaca jendela pecah dan pintu rusak.
 
Korban telah membuat laporan pengaduan resmi ke Polsek Silau Kahean sesuai No Pol : STPL/46/XII/20220/S-Kahean tertanggal 20 Desember 2020. Kapolsek Silau Kahean AKP Horas Sinaga langsung turun memimpin jalannya proses olah tempat kejadian perkara (TKP).
 
Korban juga disarankan agar membuat visum karena mendapat luka-luka di antaranya kepala bocor dan beberapa bagian tubuhnya luka memar. Namun, pada 8 Januari 2021, penanganan kasus yang dilaporkan korban dilimpahkan ke Polres Simalungun.
 
Sejak dilaporkan hingga statusnya ditetapkan sebagai tersangka, terduga pelaku tidak ditangkap dan masih bebas berkeliaran. (Avid)