Warna Sumut: Pristiwa
Showing posts with label Pristiwa. Show all posts
Showing posts with label Pristiwa. Show all posts

Thursday, August 26, 2021

Realita Kehidupan Pejaga Sekolah Honorer Di SDN Perumnas Mandala

warnasumut.com - Medan. Diangkat dari cerita mengharukan, Delima (39) istri seorang penjaga sekolah Honorer di SDN. 066663, yang beralamat di Prumnas Mandala, Jalan Balam.

Berdasarkan pantauan awak media saat berkunjung kerumah dinas penjaga sekolah, rumah yang di tempati sudah pantas untuk di renovasi pasalnya selain atap rumah yang sudah bocor, keadaan rumah kumu dan apabila musim hujan datang rumahnya selalu banjir "udah capek la bg, kalau rumah kami sudah langganan banjir, "ucap Delima. 

Menurut data yang di himpun, suaminya sudah tiga tahun bekerja sebagai Honorer penjaga sekolah di SDN 066663 . di singgung masalah upah gaji, Delima mengatakan upah atau gaji yang di terima suaminya Bersumber dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang keluar pertiga bulan sekali, adapun besaran yang di terima enam ratus ribu rupiah (600.0000) pertiga bulan. 

"Saya berharap kepada Pak Bobby selaluku Wali kota Medan tolong di perhatikan, tenaga honorer yang mengapdi kepada negara khusus nya nasib saya. dengan gaji segitu kami mau makan apa, belum lagi untuk biaya anak sekolah, " Ungkap Delima. 

Di tambahkannya "apa lagi di masa vandemi ini kami semakin susah, kami yang bekerja sebagai honorer penjaga sekolah tidak pernah menerima bantuan dari dinas pendidikan terdampak PPKM Level 4.  (Sr/Tim)

Terdampak Banjir, Personel Koramil Psb Utara Pantau Wilayah Binaan


warnasumut.com - Kapuas Hulu, Senin (23/8/21) - Dampak curah hujan yang tinggi mengguyur beberapa daerah di Kabupaten Kapuas Hulu, Khususnya Kecamatan Putussibau Utara dan Putussibau Selatan yang berada di wilayah Koramil 1206-06/Putussibau Utara. Danramil 1206-06/Psb Utara, Kapten Inf Nanang Sundari memberikan perintah kepada seluruh personel Koramil 06/Psb Utara melaksanakan pemantauan wilayah binaan.

Terjadinya banjir dikarenakan meluapnya sungai Kapuas dan sungai Hulu Kapuas yang tidak mampu menampung debit air hujan.

Adapun wilayah yang terdampak banjir untuk Kec. Putussibau utara berada di Kelurahan Putussibau Kota dan Kelurahan Hilir Kantor. Sedangkan Kecamatan Putussibau Selatan berada di Kelurahan Kedamin Hulu dan Kelurahan Kedamin Hilir.

Selain memantau lokasi yang terdampak banjir, Danramil juga memerintahkan para Babinsa untuk menyampaikan himbauan kepada masyarakat agar tetap tenang dan waspada akan meluapnya air kirim dari sungai Hulu Kapuas.

Dirinya berpesan kepada para Babinsa, meminta masyarakat untuk mematikan aliran listrik agar tidak membahayakan bagi diri sendiri dan orang lain. Serta mengamankan barang masing-masing yang dianggap penting ke tempat yang lebih aman.

“Kami akan terus melakukan pemantauan kepada warga yang terdampak banjir, dan terus berkoordinasi dengan instansi terkait lainnya guna mengantisipasi apabila sewaktu-waktu air semakin naik,” pungkas Kapten Inf Nanang Sundari. (Tim)

Friday, August 20, 2021

Perampok Taksi Online Ditangkap Tekab Polsek Sunggal


warnasumut.com - Medan. Team khusus anti bandit (Tekab) Polsek Sunggal Polrestabes Medan kembali berhasil meringkus komplotan penjahat bersenjata tajam, yang merampok seorang pengemudi taksi online dengan modus berpura-pura sebagai penumpang.

Demikian disampaikan oleh Plt Kapolsek Sunggal AKP P. Panjaitan SH MH melalui Kanit Reskrim AKP Budiman Simanjuntak SE MH didampingi Kasi Hukum Aiptu Ngatijan dan Kasi Humas Aiptu Roni Sembiring saat dikonfirmasi pada Kamis (19/08) di mako Polsek Sunggal Polrestabes Medan.

Dijelaskan Kanit, peristiwa perampokan tersebut berawal pada hari Sabtu (14/08) sekira pukul 00.30 wib, korban MI (42) warga Kel. Sunggal Kec. Medan Sunggal, mendapatkan orderan melalui aplikasi online. Selanjutnya korban menjemput penumpang tersebut di Jl. Binjai km 12, yaitu tiga orang pria, dua orang masuk kedalam mobil korban sedangkan yang seorang lagi tidak ikut, dengan tujuan di seputaran pintu tol Jl. Orde Baru Kec. Sunggal DS.

Sewaktu mendekat ke pintu masuk tol Semayang, salah seorang pelaku menunjukkan sebuah rumah dan mengatakan kepada korban itu adalah rumahnya sehingga korban harus berbalik arah dan memperlambat laju kendaraannya, tambahnya lagi, namun momen itu dimanfaatkan pelaku untuk langsung menikam korban beberapa kali sehingga korban langsung keluar dari mobilnya untuk menyelamatkan diri hingga akhirnya pingsan dan ditolong oleh warga sekitar. Sedangkan kedua pelaku langsung melarikan diri dengan membawa mobil berikut handphone korban.

Tekab Polsek Sunggal Polrestabes Medan yang menerima laporan pengaduan korban segera melakukan olah TKP dan selanjutnya melakukan penyelidikan sekaligus melakukan koordinasi dengan jajaran Polda Sumut untuk melakukan pencegatan terhadap mobil korban.

"Atas kerja sama yang baik, selanjutnya diketahui mobil korban sedang mengarah ke Rantau Prapat, sehingga team yang dipimpin langsung oleh Kanit Reskrim didampingi Panit Ipda Bambang Wahid, SH segera melakukan pengejaran dan berhasil menemukan keberadaan para pelaku.", imbuhnya lagi.

"Posisi terakhir, kita ketahui bahwa para pelaku berada di Rokan Hulu Riau sehingga kita berkoordinasi dengan Polsek Bagan Sinembah, untuk melakukan penangkapan terhadap tersangka. Namun saat dilakukan penggerebekan, dua orang tersangka melarikan diri sedangkan seorang tersangka MIA (26) warga Kel. Sei Sikambing Kec. Medan Helvetia yang juga melakukan perlawanan saat dilakukan penangkapan terpaksa kita lakukan tindakan tegas dan terukur dibagian kaki sebelah kanan." papar mantan Kanit Reskrim Polsek Patumbak tersebut.

"Pada hari Minggu (15/08) sekitar pukul 10.30 wib, tersangka MIA sudah berhasil kami amankan dan saat sekarang ini sudah ditahan di RTP Polsek Sunggal dan barang bukti berupa satu unit mobil Daihatsu Sigra dan dua bilah pisau sudah kami sita, sedangkan dua orang temannya, yang sudah diketahui identitasnya, masih kami kejar dan dimasukkan kedalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Kami himbau agar keduanya menyerahkan diri guna memperlancar proses penyidikan. Terhadap tersangka, kami persangkakan melanggar pasal 365 KUHP, dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara," pungkasnya mengakhiri. (Rizky Zulianda)

Thursday, August 19, 2021

Ngeri, Rumah Sakit Eshmun Marelan Buang Limbah B3 Secara Sembarangan

warnasumut.com - Medan. Lagi permasalahan terjadi di kota Medan yang kita cintai ini,kali ini masalah hadir di bidang kesehatan terutama dari sebuah Rumah Sakit yang baru berdiri di Kota Medan tercinta ini.

Adapun Rumah Sakit yang dimaksud yakni Rumah Sakit  yang bernama Eshmun dan terletak di Jalan Marelan atau tidak beberapa jauh dari Tanah Lapang 600 yang masih merupakan wilayah Kota Medan.

Rumah Sakit yang tidak memiliki AMDAL sesuai peruntukannya tersebut dinilai melanggar izin tentang kesehatan dan lingkungan hidup, DPC LSM Pembela Kemerdekaan Rakyat (PAKAR) melalui Ketua DPC Kota Medan sudah 2 kali menyurati Rumah Sakit tersebut tetapi tidak mendapatkan balasan.

Maka pada Senin(16/08/2021) sekitar pukul 09.00 Wib DPC LSM PAKAR Kota Medan mengadakan konferensi pers di sebuah hotel yang ada dikota Medan dengan mengundang awak media, LSM yang telah banyak membela hak-hak rakyat yang termajinalkan tersebut pun setelah mengadakan konferensi pers langsung turun ke Rumah Sakit yang dimaksud untuk mempertanyakan hal tersebut ditemani beberapa awak media. Dimana LSM PAKAR DPC Kota Medan sudah menyurati Dinas LH  melalui Kadis LH Kota Medan S Armansyah Lubis SH benar menyatakan bahwasannya benar Rumah Sakit Eshmun tersebut tidak mempunyai tempat pembuangan limbah B3 sesuai dengan peruntukannya, dan ini sangat berbahaya sebab bisa menimbulkan masalah baru ditengah-tengah masyarakat.

Ketua DPC LSM PAKAR Kota Medan melalui Sekretarisnya Acil dan Wakil Ketua Dewi meminta pemerintah terutama Pemko Medan dibawah pimpinan M Bobby Afif Nasution segera mencabut izin Rumah Sakit tersebut, sebab ini sudah melanggar ketentuan yang ada tentang berdirinya sebuah Rumah Sakit.

Apalagi ketika DPC LSM PAKAR Kota Medan turun langsung menemui pihak Rumah Sakit dengan ditemani oleh DPW Perkumpulan MOI Sumut dibawah pimpinan PLT Ketua Ir H Hamlet Harahap MM melalui Ketua Hubungan Antar Lembaga Roy Nasution. Malah ditemui oleh pihak Rumah Sakit yang tidak berwenang menjawab bernama Servia dan Dewi.

Bahkan ketika awak media menanyakan tentang amdal Rumah Sakit Eshmun tersebut, Servia mengatakan bahwa mereka Rumah Sakit tempat mereka bekerja sudah memiliki AMDAL sementara Dewi menjawab mereka hanya memiliki IKL/UPL. Disini ketahuan bahwa Rumah Sakit tersebut belum memiliki sebuah tempat pembuangan limbah sesuai yang diperuntukkan layaknya sebuah Rumah Sakit dengan jawaban mereka yang tidak sinkron tersebut.

Untuk itu,sekali lagi DPC LSM PAKAR Kota Medan meminta Pemko Medan segera mencabut izin Rumah Sakit Eshmun sesegera mungkin, atau mereka akan melakukan demo besar-besaran ke Pemko Medan dan Polrestabes Medan serta Polda Sumut. Karena disini terlihat bahwa Rumah Sakit tersebut terkesan kebal hukum dengan merasa dekat dengan para penguasa. Demikian kata Ketua DPC LSM PAKAR Kota Medan kepada awak media. (RZ)

Tuesday, August 17, 2021

Seorang Wanita Ditemukan Tewas Tergantung


warnasumut.com - Medan. Sesosok mayat perempuan yang tidak dikenal ditemukan oleh warga Jl. Kapten Sumarsono Dusun III Desa Helvetia Kec. Sunggal DS dalam posisi tewas tergantung di tiang pagar sebuah rumah kosong pada Sabtu (14/08) sekira pukul 12.30 wib.



Warga yang menemukan segera melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Sunggal yang selanjutnya langsung meluncur ke tempat penemuan tersebut dipimpin Kanit Intelkam Iptu Suhaily Hsb, SH didampingi Panit Reskrim Iptu Ibrahim Sofie, SH guna melakukan olah TKP bersama Tim Inafis Polrestabes Medan.



Demikian disampaikan oleh Plt Kapolsek Sunggal AKP P. Panjaitan SH MH melalui Kanit Reskrim AKP Budiman Simanjuntak SE MH didampingi Kasi Hukum Aiptu Ngatijan dan Kasi Humas Aiptu Roni Sembiring saat dikonfirmasi di mako Polsek Sunggal.



Dijelaskan Kanit, berkaitan dengan penemuan tersebut hingga saat ini saksi yang dimintai keterangannya ada tiga orang yaitu orang yang pertama kali melihat, Kepala Dusun dan pemilik rumah.


"Sudah tiga orang yang kami mintai keterangannya, namun ketiganya tidak ada yang mengenali mayat perempuan tersebut," tambahnya.



"Mayat Mrs X tersebut ditemukan dalam posisi tergantung di tembok pagar dan memakai helm, dengan ciri-ciri memakai celana panjang warna gelap, baju kaos lengan panjang berwarna terang namun ditubuhnya tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan sehingga masih kita dalami penyebab wanita tersebut bisa tergantung di tembok pagar tersebut," imbuhnya lagi.



"Saat ini, mayat Mrs X sudah kami evakuasi ke RSU Bhayangkara dan bagi masyarakat yang mengetahui identitas wanita tersebut kami harap agar bisa memberikan informasi ke Unit Reskrim Polsek Sunggal guna kami tindaklanjuti," pungkasnya mengakhiri. (Rizky Zulianda)

Saturday, August 14, 2021

2 Bulan Di Laporkan Ke Polsek Tanjung Morawa, Kasus IRT Di Ancam Pisau Masih Tak Jelas


warnasumut.com - Deli Serdang. NY, seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) warga Dusun V Desa Telaga Sari, Kec. Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, yang merupakan Korban Kasus pengancaman menggunakan senjata tajam (Sajam) disertai dugaan percobaan pembunuhan, akhirnya harus memilih untuk pindah tempat tinggal (rumah).

Pasalnya, akibat peristiwa yang dialaminya tersebut, korban mengaku terancam, padahal kasusnya sudah hampir dua bulan dilaporkan ke Mapolsek Tanjung Morawa, tertuang dalam Nomor : STTLP/56/IV/2021/SPK, pada 10 Juni 2021 sekira pukul 12.51 Wib lalu, namun korban merasa dirinya tidak terlindungi.

Korban membeberkan, sebelumnya, usai melaporkan peristiwa pengancaman menggunakan Sajam, hingga dirinya nyaris dibunuh oleh pelaku, korban mengaku kerap mendapat teror.

Aksi teror yang menimpah keluarga korban diantaranya, saat sore korban pulang melaporkan kasus tersebut dari Polsek Tanjung Morawa, ayahnya dan adiknya yang ketika pergi berboncengan naik sepeda motor mendapat teror, dengan cara digertak oleh adik pelaku.

"Ketika ayah saya dan adik saya berboncengan naik sepeda motor ingin membeli sesuatu di warung, saat berpapasan dengan adik pelaku, langsung dimaki dan ditantang oleh adik pelaku dengan mengucapkan kata-kata kotor", beber Korban.

Tidak hanya sampai disitu saja, korban juga mengungkapkan, pada pagi dini harinya, pada Jumat (11/6/2021), sekira pukul 2.00 wib, keluarga korban juga kembali mendapat teror.

"Pada saat dini hari itu, kami mendengar ada suara berisik kaki melangkah dihalaman rumah kami, namun ketika ayah saya ingin melihat keluar rumah melalui pintu depan ternyata pintunya dikunci dari luar, terpaksa ayah saya lewat pintu belakang, namun ketika diluar rumah ayah saya melihat ada orang lari, hingga ayah saya membentak, "siapa itu", ungkap korban.

Kemudian, lanjut korban, ketika dirinya akan pergi bekerja berjualan ke pasar, pada dini hari, teror berlanjut diduga dilakukan pelaku. 

"Ketika dini hari itu saya hendak berangkat berjualan, dan seperti biasanya dijemput oleh tukang becak motor, namun ketika diperjalanan kami dibuntuti, hingga akhirnya tukang becak yang saya tumpangi memilih tancap gas, dan syukurlah kami selamat, hingga sampai di Jalan besar beberapa sepeda motor yang mengejar kami dari belakang, berputar balik, mungkin mereka takut karena dijalan sudah mulai ramai orang yang akan pergi beraktivitas", jelas Korban.

Terkait aksi teror tersebut hingga akhirnya korban memilih berdiam diri dirumah dan memutuskan untuk berhenti bekerja berjualan.

"Beberapa kali ketika saya pergi bekerja berjualan, becak yang saya tumpangi seperti ada yang membuntuti, hingga pada suatu hari memang benar benar dikejar oleh beberapa sepeda motor, tapi saya masih selamat, jadi dari pada terjadi peristiwa yang tidak di inginkan, saya memilih untuk berhenti bekerja di Pasar", ungkap korban.

Ironinya, akibat kerap mendapat teror, saat ini korban bersama keluarga memilih pindah rumah.

"Anak saya masih kecil, dan saya perlu membiayai anak saya, dan saya juga tidak mau keluarga kami menjadi korban, jadi saya memilih pindah rumah, karena memang rumah sebelumnya yang kami tempati ini sepi, karena diareal perladangan", ucap Korban.

Sebelumnya, di Mapolsek Tanjung Morawa, pada Jumat (06/08/2021), korban NY mengungkapkan bahwa, saksi yang mengetahui kejadian peristiwa percobaan pembunuhan tersebut itu adalah tetangganya sendiri, yakni Painoka alias Wak Kuto dan Eka Susilawati. 

"Namun diduga saksi telah memberikan kesaksian palsu. Padahal jelas-jelas saat kejadian saksi berada ditempat dan sempat melihat pelaku berlari dan menyebutkan nama terduga pelaku, akan tetapi di hadapan petugas Kepolisian saksi beralibi tidak berada ditempat, dengan alasan berjualan bersama suami", beber Korban.

Terkait hal tersebut korban mengaku memiliki rekaman pembicaraannya dengan saksi, bahwa saksi melihat dan mengenali pelaku, dan menyuruh korban membuat laporan polisi.

Sementara itu, Kapolsek Tanjung Morawa AKP Sawangin, melalui Kanit Reskrim Ipda Oloan Samosir saat dikonfirmasi wartawan mengatakan belum menetapkan tersangka karena belum mencukupi alat bukti yang kuat sebutnya.

”Saya sedang di Polres, jadi untuk kasus itu sudah kita tangani, hanya saja belum cukup alat bukti untuk menetapkan tersangka", ujar Ipda Oloan Samosir, Jumat (06/08/2021).

Disinggung bahwa di duga saksi telah memberikan keterangan palsu, yang benarnya pembicaraan pada saat kejadian keterangan saksi ada dalam rekaman handpone milik korban. Oloan Samosir menyebutkan bahwa "hal itu tidak ada di BAP dan rekaman pembicaraan itu tak bisa dijadikan alat bukti", katanya. (Avid)

Wednesday, August 4, 2021

Korban Perampasan Tanah, Elpi J Purba Siap Lapor Ke Polisi

warnasumut.com - Riau. Tanah Elpi J Purba seluas 22 Hektar yang berada di RT. 01. RW. 04. Desa. Tasik. Serai Kecamatan Talang Mandau Kabupaten Bengkalis di duga di rampas dan di serobot oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. dengan adanya oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab menyerobot lahan, jelas-jelas sangat merugikannya, beruntung Elpi J Purba langsung mengetahuinya dan langsung menunjuk Kantor Hukum Pelita Konstitusi Riau sebagai kuasa Hukumnya. 

Sementara Kuasa Hukum Elpi J Purba dari Kantor Hukum Pelita Konstitusi Riau Dongan. N. Siagian, SH. M. Abdul Jafar Siregar dan Abdul. Rahman. Purba, SH, telah mengingatkan kepada masyarakat Tasik Serai ataupun yang lainnya untuk tidak melakukan jual beli ataupun tindakan lainnya di atas lahan milik klien hukum nya tersebut. bahkan saat ini pihak nya siap bertemu dengan pihak-pihak yang telah mengklaim lahan milik Elpi J Purba. Menurut informasi yang di dapat di lapangan bahwa lahan tersebut telah di steking dan pancang serta siap untuk di tanam.

Dongan N Siagian SH menyatakan bahwa kliennya telah membeli dari Risyam pada tahun 1998 sesuai dengan Surat Keterangan Ganti Rugi Atas Tanah tertanggal 15 Juni 1998 yang di ketahui oleh Bapak Hasan.C Kades Tasik Serai Kecamatan Talang Mandau. Kami minta aparat Desa Tasik Serai agar tidak sembarangan untuk mengeluarkan surat apapun di atas tanah milik klien hukumnya dan menghimbau kepada penyerobot lahan pergi dengan baik-baik, jika tidak dengan sangat terpaksa akan kami laporkan ke aparat penegak hukum. (Tim)

Monday, August 2, 2021

Puluhan Mahasiswa Dan Pecinta Lingkungan Hidup Kampanye Tolak Energi Kotor Batubara

warnasumut.com - Sumut. mahasiswa, aktivis pecinta lingkungan hidup, Yayasan Srikandi Lestari serta tim dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan menggelar kampanye di perairan seputar PLTU Pangkalan Susu, Sabtu (31/7) siang. Mereka mendesak, agar perusahaan penyedia listrik itu segera merehabilitasi lingkungan yang sudah rusak.

Mereka bergerak dari Desa Sei Siur, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat menuju anak usaha dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) itu lewat jalur air. Sepanjang perjalanan, mereka bertemu dan berdialog dengan nelayan di sana.

"Sekarang dah sulit nyari hasil yang memadai di lokasi ini. Kawasan mangrove yang menjadi habitat udang, ikan dan kepiting di kawasan ini sudah rusak. Saya berharap, agar mangrove di sini bisa segera dipulihkan kembali," keluh nelayan tradisional yang mengaku bernama Ismail asal Desa Tanjung Pasir itu.

# Rehabilitasi Kawasan Mangrove

Tepat di belakang perusahaan pembangkit listrik tersebut, mereka membentangkan spanduk berisi nada protes kepada pemerintah, untuk melepaskan ketergantungan penggunaan energi kotor batubara, mempercepat pengembangan energi terbarukan dan merehabilitasi kawasan mangrove di pesisir Teluk Aru.

Tak hanya itu, para pemuda yang peduli dengan lingkungan hidup tersebut, juga menuntut agar PLTU mengganti kerugian nelayan tangkap tradisional di wilayah Pangkalan Susu dan memberikan perobatan serta perawatan kesehatan pada warga di sana secara gratis.

Kemudian, mereka juga meninjau langsung proses bongkar muat batubara di laut lepas. Di sana, mereka melihat batubara berceceran ke laut, saat berlangsungnya proses loading dari kapal induk ke tongkang pengangkut batubara.

# Laut Tercemar

Di seputaran Desa Pulau Sembilan, pengusaha keramba ikan kerapu terpaksa gulung tikar. Limbah batubara yang mencemari laut sangat berdampak bagi nelayan di sana. Hasil tangkapan ikan menurun. Tongkang pengangkut batubara yang berlabuh di sekitar desa yang berdekatan dengan Jetty Conveyor PLTU itu pun mengganggu aktifitas nelayan.

Lagi-lagi, batubara yang beterbangan di sekitar Jetty Conveyor itu juga jatuh ke permukaan air laut. Akibatnya, pencemaran lingkungan pun tak terelakkan. Lambat tapi pasti, ekosistem biota laut dikhawatirkan akan segera punah

# Gagal Panen

Dari segi pertanian, dampaknya juga tak kalah menghawatirkan. Sawah tadah hujan gagal. Hama 'cekek leher' mengakibatkan batang padi kering dan mati. Hal itu membuat petani yang didominasi kaum perempuan berkurang penghasilannya. "Dahulu, petani mempunyai penghasilan 2 ton dari 10 rante lahan padi di sini," kata Ijah, warga Desa Sei Siur.

"Sekarang, petani hanya mampu panen 2-5 goni (senilai Rp.400 ribu) dengan luas lahan yang sama. Tanaman buah pisang juga terkena virus. Kondisi air hujan menjadi hitam dan tidak bisa dipergunakan lagi untuk mandi ataupun air minum. Atap seng rumah kami juga menjadi cepat rusak," tandas Ijah.

# ISPA dan Penyakit Kulit

Riset yang dipublikasi Greenpeace Indonesia menyebutkan, PLTU batu bara diperkirakan telah menyebabkan 6.500 kematian dini setiap tahunnya. Dengan rencana pembangunan PLTU batu bara baru, angka kematian ini bisa mencapai 28.300 orang setiap tahun. Dari hulu ke hilir, biaya kesehatan, lingkungan dan sosial dari pertambangan batu bara tidak diperhitungkan, yang pada akhirnya harus ditanggung rakyat. Biaya kesehatan dari PLTU Batubara misalnya, mencapai Rp351 triliun untuk setiap tahun.

Sementara, berdasarkan data yang dihimpun Yayasan Srikandi Lestari dari Puskesmas Beras Basah pada tahun 2019 semester II, sebanyak 1.073 masyarakat Pangkalan Susu menderita Infeksi Akut Lain pada saluran pernafasan bagian atas dan sebanyak 1.090 menderita penyakit kulit. 

"Masyarakat di sekitar Desa Sei Siur mengalami gatal-gatal pada kulitnya. Banyak juga anak di sana yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang merupakan imbas dari abu terbang (fly ash) batubara. Penggunaan energi kotor batubara harus segera dihentikan," kata Direktur Yayasan Srikandi Lestari Sumiati Surbakti SE.

# Mencari Solusi

Ketua FKPPI Kecamatan Pangkalan Susu Ismail melalui Sekjennya Anuar Hamdani Nasution mengatakan, bahwa yang paling merasakan dampak dari hadirnya PLTU batubara adalah nelayan di Pulau Sembilan. Penghasilan mereka turun drastis hingga 70 persen.

Untuk di Desa Sei Siur, kata Anuar, warga di sana sangat merasakan dampak dari polusi udara. Sesak nafas, batuk dan kulit gatal-gatal sudah menjadi hal kerap terjadi di sana. Air hujan yang turun kadang menjadi hitam, karena bercampur abu batubara.

"Perusahaan (PLTU P Susu) harus segera mencari solusi terkait persoalan ini. Ini persoalan serius. Mereka harus turun untuk mendengar keluhan warga di bawah. Jangan cuma dengar dari pihak desa atau kecamatan aja," tandas pria paruh baya itu.

Terpisah, Humas PLTU P Susu Syawal saat dikonfirmasi awak media terkait persoalan tersebut, Senin(2/8), mengatakan akan konfirmasi ke manajemen perusahaan. "Saya akan konfirmasi dahulu. Mohon ditunggu tanggapan dari kami," kata Syawal via pesan WhatsAppnya. (Arifin)