Majelis Hakim Bingung, Keterangan Saksi Berbeda Dari B.A.P Di Ruang Chandra Pengadilan Negeri Kelas 1B Stabat - Warna Sumut

Wednesday, September 8, 2021

Majelis Hakim Bingung, Keterangan Saksi Berbeda Dari B.A.P Di Ruang Chandra Pengadilan Negeri Kelas 1B Stabat

warnasumut.com - Dalam persidangan kasus dugaan memberikan keterangan palsu Pasal 242 KUHP Nomor Perkara : 426/Pid.B/2021/PN.Stb dengan terdakwa Sri Bulana yang digelar di Ruang Chandra Pengadilan Negeri Kelas 1B Stabat dan di Rutan Kelas II B Tanjung Pura secara virtual (online), dipimpin Ketua Majelis Hakim As'ad Rahim Lubis, SH, MH, menghadirkan para saksi korban (pelapor) yakni Arihta, Darliana dan Susi Susanti, Rabu (08/09/2021) sekitar Pukul 11.00 Waktu Indonesia Barat (WIB)

Awalnya, persidangan mendengarkan kesaksian saksi korban, Arihta di Kejari Langkat dilangsungkan secara virtual. Namun, dikarenakan sistem virtual mengalami gangguan teknis, sehingga Penasihat Hukum (PH) terdakwa, Yusfansyah Dodi, SH, Fadillah Hutri Lubis, SH dan meminta kepada Ketua Majelis Hakim, agar para saksi Arihta serta Derliana, dihadirkan langsung di PN Stabat. Permintaan PH tersebut dikabulkan dan persidangan dilanjutkan di Ruang Chandra berserta kedua saksi.

Dalam persidangan, saksi Arihta Br Sembiring menjawab pertanyaan yang dilontarkan Majelis Hakim serta PH terdakwa seperti gugup.

Menurut saksi Arihta, terdakwa Sri Bulana terlibat dalam kasus dugaan memberikan keterangan palsu bermula dari hutang piutang yang dilakukan Susi Susanti Br PA terhadap saksi korban yang disidangkan dalam kasus penipuan dan penggelapan sebelumnya.

Dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Edi Siong, Sri Bulana dihadirkan sebagai saksi karena adanya pengakuan Susi Susanti jika uang hasil hutang dengan modus investasi pendulangan emas bodong itu telah diserahkan kepada Sri Bulana.

"Tapi kan terdakwa Sri Bulana tidak terlibat dalam masalah investasi bodong pendulangan emas. Kenapa dia dituduh bersaksi palsu. Dimana letak keterangan palsunya?" tanya Ketua Majelis Hakim.

Arihta menjelaskan, Sti Bulana dijadikan tersangka karena dituduh bersaksi palsu yang dia laporkan ke penyidik Polres Langkat.

"Saat ditanya Hakim statusnya, Kak Sri Bulana ini mengatakan dia Ibu Rumah Tangga. Tapi ditanya hakim lagi, dijawab wiraswasta," ujar Arihta.

Majelis Hakim menanyakan apakah terdakwa memiliki usaha lain, Arihta mengatakan tidak ada. "Kalau usaha barang kelontong itu barunya. Paling berkisar baru 1 bulan belakangan," ujar saksi.

Arihta sempat kelimpungan ketika ditanya kembali oleh Majelis Hakim, dimana letaknya kesaksian palsu yang ditiduhkan kepada terdakwa. Arihta mengatakan jika Sri Bulana tidak mengakui jika dia ada menerima uang dari Susi Susanti.

"Saya ada menyerahkan uang bersama Susi Susanti ke rumah Sri Bulana. Tapi dia dalam persidangan tidak mengakui ada menerima uang," ujar Arihta.

Terus, kejar Hakim, uang yang diserahkan kepada Sri Bulana itu uang apa. "Itu uang pembayaran bunga hutang Susi Susanti, Pak Hakim," ujar Arihta.

Hakim mencecar Arihta jika uang yang dibayarkan Susi Susanti tersebut merupakan untuk membayar hutang kepada terdakwa. "Anda bilang memberi keterangan palsu, apa ruginya bagi saksi jika Susi Susanti membayar hutangnya kepada terdakwa, dimana keterangan palsunya?" ujar Hakim.

Arihta semakin bingung, saat PH terdakwa menanyakan dari mana saksi mengetahui kalau Sri Bulana bersaksi palsu dan harus ditahan. "Apakah saksi ada menerima dan membaca penetapan dari Majelis Hakim agar JPU melakukan penyidikan kepada Sri Bulana dengan dugaan keterangan palsu? Arihta mengaku dirinya tidak ada membaca putusan tersebut. Dan hal tersebut juga ditegaskan kembali oleh Majelis Hakim, agar saksi Arihta menjelaskan secara jujur.

Dalam fakta persidangan, keterangan saksi Arihta dinilai terlalu berbelit belit dan membingungkan Majelis Hakim atau pun PH terdakwa.

Ketika ditanya siapa yang mengajari dan menyuruh saksi Arihta untuk melaporkan Sri Bulana ke penyidik Polres Langkat terkait penetapan hakim tersebut, Arihta terdiam kebingungan. Selain itu, saksi mengakui jika dirinya juga memiliki hutang kepada terdakwa Sri Bulana. Meski sempat lama terdiam, akhirnya Arihta mengakui bahwa dia melaporkan Sri Bulana diantar ke penyidik oleh JPU Rumondang Siregar.

PH juga menanyakan apakah dari hasil persidangan sebelumnya dan sampai persidangan yang digelar saat ini, saksi sudah memahami siapa yang berbohong, meski sempat terdiam namun akhirnya Arihta mengaku yang bohong Susi Susanti.

Anehnya, saksi korban lainnya, Darliana Br Sembiring, malah mengaku dirinya tidak mengetahui masalah penetapan Hakim untuk melakukan penyidikan kepada Sri Bulana. "Saya tidak tau masalah itu karena saya tidak ada dalam persidangan penetapan itu, Pak Hakim," ujar Darliana.

Namun saat dicecar PH terdakwa jika saksi tidak tau dan tidak ada dalam persidangan sebelumnya, mengapa keterangannya di BAP penyidik Polres Langkat dirinya seperti mengetahui persis penetapan hakim tersebut, Darliana kebingungan. "Saya tidak tau Pak. Keterangan di BAP itu banyak yang tidak benar," ujar Darliana meski sebelumnya telah diperlihatkan di depan Majelis Hakim apa keterangannya yang tertera dalam BAP dari penyidik tersebut.

"Jadi keterangan di BAP ini diduga semua hanya coppy paste? Darliana memgaminkannya. "Mungkinlah, Pak," ujarnya.

Terpisah, saksi Susi Susanti kepada Majelis Hakim mengaku jika dirinya pernah didatangi penyidik Polres Langkat ke LP Tanjung Pura. "Benar Pak. Tidak ada dimintai keterangan. Tapi saya hanya tandatangan BAP saja," ujarnya.

Dalam persidangan kasus dugaan keterangan palsu tersebut yang melibatkan Susi Susanti sebagai pelaku penipuan dan penggelapan, Ketua Majelis Hakim menanyakan kepada Susi Susanti memiliki hubungan apa dengan para saksi korban, yakni, Darliana, Arihta, Siti Derhana, Paksa Sembiring, Mariana Br Sitepu dan Rumondang Siregar, Susi menjelaskan karena memiliki hutang. Sementara hubungannya dengan Rumondang Siregar, SH, MH, Susi menjelaskan tidak ada.

Sebagaimana diketahui, Rumondang Siregar, SH, MH, ini merupakan JPU dalam kasus penipuan dan penggelapan dengan terdakwa Susi Susanti dan yang memenjarakan Sri Bulana karena dituduh memberikan keterangan palsu. Tapi dalam kasus ini, Rumondang Siregar menjadi saksi para saksi korban (pelapor). Bahkan para saksi korban mengaku saat dimintai keterangan untuk BAP tidak disumpah. Namun di dalam berkas perkara ada Berita Acara Sumpah.

Di Halaman PN Stabat, Kuasa Hukum Rosmina Boru Sitepu, Edi Perwira Ginting,SH.MH didampingi Angga Satria SH dan Fitriadi Gunawan SH mengatakan kepada Tim wartawan bahwa bukti bukti persidangan , bahwasanya kita mendapatkan semuanya hanyalah permainan terdakwa sebelumnya , jadi seakan ini hanya sebagai akal akalan terdakwa sebelumnya untuk menarik sebanyak banyaknya orang termasuk kliennya Rosmina Boru Sitepu.

Masih ia, Dan pelapor sendiri pun mengalami dan sadar bahwasanya itu adalah akal akalan terdakwa sebelumnya, jadi seolah-olah kliennya dijadikan korban, ya atas pernyataan saudara Susi sebagai terdakwa perkara perkara Sebelumnya.

Dia berharap supaya hakim memutuskan seadil-adilnya untuk kliennya saat ini dengan bukti bukti persidangan yang ada (Rizky Zulianda)

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda